#

Pondok Pesantren Insan Cita Indonesia

Profil PPICI: Kekhasan, Tujuan dan Visi-Misinya

Berdasarkan data Kementrian Agama (Kemenag) pada 2019 jumlah pesantren mencapai 26.973 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah pesantren terbanyak tembus sampai 8.343 unit. Jawa Timur jauh berada di bawahnya pada kisaran 4.452 unit. Demikian juga di Jawa Tengah hanya ada 3.787 unit. Adapun provinsi dengan jumlah pesantren paling sedikit adalah Maluku. Jumlahnya hanya 16 unit.

Mengingat konteks buku ini adalah penyusunan sistem PPICI yang berada di Palu, penting ditengok pula berapa total jumlah pesantren di Sulawesi Tengah. Data serupa menunjukkan provinsi tersebut memiliki 88 pondok pesantren.


Kekhasan

Salah satu yang terbesar di antara 88 pesantren di Sulawesi Tengah itu adalah Pondok Pesantren Al-Khairat. Pesantren ini sering kali disebut sebagai “Gontor-nya Sulawesi”. Karena sistem kurikulum dan pengelolaannya sangat mirip. Jaringan alumni dan cabangnya pun luas. Pesantren ini kalau berdasarkan kategori Kemenag merupakan pesantren modern yang penyelenggaraannya dalam bentuk dirásatu ‘l-islámiyah dengan metode pendidikan al-mu’allimín. Namun akan nampak berbeda bila dilihat secara detail berdasarkan perspektif Nurcholish Madjid.

Menurut Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid) dalam Bilik-bilik Pesantren, jenis pesantren terbagi menjadi empat. Pertama, pesantren yang penuh semangat mengimplementasikan pengelolaannya melalui sistem yang kompatibel dengan semangat modernitas. Kedua, pesantren yang sudah mulai melek kemajuan zaman namun tetap mempertahankan sebagian tradisi yang dianggap penting. Ketiga, pesantren yang semangatnya adalah tradisionalisme namun tetap berusaha menyemainya dengan modernitas. Keempat, pesantren yang sama sekali anti-pati terhadap gegap gempita modernisasi. Berdasarkan kategori ini, pesantren Al-Khairat sebenarnya adalah pesantren kategori ketiga. Semangatnya adalah tradisionalisme hanya penyelanggarannya yang menggunakan metodemetode modern. Kategorisasi ini didasarkan pada dominannya pengaruh tradisi Arab-Hadlramaut yang dibawa langsung oleh pendirinya, Habib Idrus bin Salim Aljufri.

Di sinilah perbedaan Al-Khairat dengan PPICI. PPICI tampil sebagai pesantren kategori kedua. Semangat yang dibangunnya adalah modernisme sembari tetap mengambil sebagian dari tradisi lama pesantren yang dianggap penting. Di antaranya yang akan diadopsi dari tradisi pesantren saláf adalah attitude kesantrian (ádábu ‘l-muta’allím), metode memahami teks-teks keislaman yang berbahasa Arab (sorogan dan bandongan di bidang nahwusharráf), dan sistem kemadzhaban ahlu ‘sunnah wa ‘l-jamá’ah dalam perihal ‘ubúdiyah. Adapun semangat modernisme yang akan diterapkan dalam PPICI nanti adalah upaya melakukan rekonstruksi pemahaman keislaman yang pro terhadap—dan bahkan mendukung—segala bentuk gerakan perubahan menuju ke arah kemajuan dan perdamaian abadi. Pesantren ini akan mengintegrasikan keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Untuk melihat kelebihan pesantren ini silakan lihat tabel 1 di bawah ini.

No Kelebihan PPICI Keterangan
1 Fasilitas lengkap meliputi: asrama putra dan putri, aula, laboratorium tafsír, mimbar para huffádh, perpustakaan, koperasi santri, bus antar jemput sekolah, dan fasilitasfasilitas lain sesuai kebutuhan. Fasilitas ini akan dihadirkan dengan kelengkapan dan kenyamanan.
2 Beasiswa full untuk anak berprestasi, putra/putri KAHMI Sulawesi Tengah, anak yatim, dan anak dari keluarga kurang mampu.
3 Terdapat tiga ruang keberminatan sesuai minat dan bakat santri di bidang: Tahfídh, Tafsír, dan Tijároh. Para santri yang berhasil menyelesaikan satu tahun kelas isti’dád bebas memilih di antara tiga keberminatan tersebut.
4 Pengasuh dari Universitas Madinah, Saudi Arabia dan para tenaga pengajar diambil dari berbagai alumni pesantren dan kampus ternama di Indonesia yang masing - masing memiliki kecakapan di bidang tafsír, tahfídh dan tijároh.
5 Kerja sama sekolah formal dengan Sekolah Sukma Bangsa Palu. Kerjasama proses belajar mengajar antara SMA Sukma Bangsa Sigi dengan Madrasas Aliyah PPICI. Mutual-benefit antara dua lembaga.
6 Hanya diperuntukkan lulusan SMP/MTs.
7 Masa belajar selama empat tahun. Selama satu tahun awal adalah kelas isti’dád. Santri akan digodok fokus hanya mempelajari dua hal: gramatika Bahasa Arab (nahwu-sharráf) dan akhlak gramatika Bahasa Arab (nahwu-sharráf) dan akhlak sebagai santri menggunakan panduan kitab-kitab klasik dan buku-buku etika modern. Tiga tahun berikutnya penjurusan sesuai minat dan bakat masing-masing.
8 Lulusan terbaik akan memperoleh beasiswa lanjutan, baik di dalam maupun luar negeri sesuai dengan prestasi.

Tujuan

Tujuan penyelenggaraan pesantren ini (PPICI) adalah untuk menciptakan generasi baru Muslim Indonesia yang mampu menjadi agen-agen perubahan masa depan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kemajuan dan perdamaian abadi. Tujuan ini penting mengingat tantangan aktual umat Muslim Indonesia dewasa ini adalah 1) kejumudan dalam beragama yang berdampak pada kebangkrutan peradaban dan 2) kegemaran memproduksi kampanye konflik yang sangat berpotensi memecah belah bangsa. Dua problem krusial ini membutuhkan penanganan serius bukan hanya secara struktural melalui kebijakankebijakan pemerintah tetapi juga secara kultural melalui pelibatan generasi muda bangsa.

Pelibatan para pemuda Muslim dalam proyek pembangunan peradaban ini penting karena pengaruh sepak terjang mereka ke depan sangat besar. Bila generasi Muslim Indonesia memiliki cara pandang keagamaan yang jumud dan antagonis tehadap perdamaian, masa depan peradaban bangsa Indonesia sendiri yang akan menjadi taruhannya. Salah satu langkah pelibatan mereka dalam proyek luhur ini adalah dengan menyuguhkan pendidikan keislaman yang progresif dan dialogis. Sehingga Islam di mata mereka tidak berhenti pada satu zaman tertentu tetapi hidup sebagai ajaran dan pedoman yang mampu merespon persoalan-persoalan aktual.

Oleh karena itu, mereka para santri PPICI yang dipersiapkan menjadi agen-agen perubahan tersebut harus mampu setidaknya menguasai panggungpanggung keagamaan dan sektor ekonomi. Dengan berbekal kemampuan dasar hafalan AlQuran, pemahaman tafsír yang komprehensif serta kaya dengan ragam perspektif, dan semangat kewirausahaan (tijároh), mereka diharapkan mampu mewujudkan mimpi pembangunan peradaban baru itu: Islam yang progresif dan damai, Indonesia yang maju sebagai negara-bangsa, dan roda modernisasi yang terus berputar tanpa hambatan.


Visi dan Misi

Visi PPICI adalah menciptakan kerangka pemahaman keislaman yang kontekstual dan fleksibel bagi kebutuhan perkembangan daya pikir santri yang menjunjung tinggi akhlaqu ‘l karimah.

Sedangkan misi dari PPICI adalah menyelenggarakan proses belajar mengajar yang mampu mengeksplorasi keberbakatan santri di bidang tahfídh, tafsír dan kewirausahaan (tijároh) secara terpadu dan komprehensif.


Struktur Kepengurusan PPICI