Kata Pengantar

Muassis PPICI

Ahmad H. M. Ali

# #

"Carilah ilmu, maka kau akan hidup abadi. Sesungguhnya manusia itu mati dan yang hidup adalah yang berilmu."

- Qaul Sayyidina Ali ibn Abi Thalib (dalam kitab Ihyá’ Ulúmi ‘Dín karya Hamid Al-Ghazali)

Saya bersyukur kepada Allah Swt., Tuhan yang telah memberi saya sedemikian banyak nikmat berlimpah. Salah satu nikmat yang saya rasa paling besar dalam hidup saya adalah Tuhan memberi saya kesempatan untuk turut terlibat dalam proyek pembangunan umat dan bangsa ini. Pondok Pesantren Insan Cita Indonesia (PPICI) yang saya bangun ini adalah ikhtiar saya untuk menciptakan generasi baru Muslim Indonesia yang pro-perdamaian abadi dan yang mampu beradaptasi dengan realitas di tengah gegap gempita modernitas. Di mata saya, umat Muslim (khususnya kalangan santri) tidak boleh terbelakang. Ketika saya membaca kitab Limádzá Ta-akkhara ‘l-Muslimún wa Limádzá Taqaddama Ghairuhum karya Syakib Arslan (1869-1946), saya sedih. Cendekiawan Muslim asal Libanon yang sekaligus sebagai politisi ulung di negerinya itu memaparkan sebab-sebab kemunduran umat Muslim. Walaupun konteks apa yang dipaparkan dalam kitab tersebut dengan apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini berbeda, setidaknya setelah membaca kitab itu semangat saya untuk melakukan pembangunan keumatan seperti luapan lahar diujung merapi, tak terbendung lagi. Apalagi ketika saya melihat masih banyak santri di Indonesia yang setelah lulus pesantren tidak memiliki peranan penting dalam mendongkrak pembangunan bangsa. Jangankan untuk memperjuangkan visi besar moralitas, kadang untuk memperjuangkan hidupnya saja susah. Saya sungguh sedih melihat kenyataan ini. Karena saya tahu dalam berbagai teori sosiologi, pembangunan suprastruktur (peradaban) harus dimulai dengan pembangunan infrastruktur (sektro ekonomi) terlebih dahulu.

Selain itu, di mata saya, santri tidak boleh menjadi provokator kerusuhan di negeri ini. Santri harusnya menjadi “professor” bukan provokator. Saya sedih ketika melihat munculnya sebagian kecil santri yang mulai tampil percaya diri di ruang publik dengan arogansi sektarianisme. Mereka melakukan tindakan vigilangisme sembari meneriakkan nama agung Allah Swt. Saya sendiri Muslim dan sekaligus santri. Sejak kecil saya tidak pernah diajarkan model keislaman semacam itu. Ketika panggung ruang publik dikuasai orang-orang semacam itu, saya merasa ada yang salah dengan model keberagamaan sebagian kecil umat Muslim di negeri ini. Sebelum penyakit semacam ini menyebar luas, saya merasa terpanggil untuk kembali menyehatkan cara keberagamaan umat ini.

Berawal dari membaca realitas tersebut, api semangat perjuangan saya—yang semoga ternilai sebagai jihad—kembali membara. Di penghujung tahun 2021 kemarin, saya menghubungi kawan saya, Ahmad Baidhowi, seorang cendekiawan Muslim yang sangat berpengalaman membantu banyak pesantren dan sekolah Islam yang mengedepankan progresivitas. Saya memintanya untuk membantu saya membuatkan sistem pesantren yang hendak saya bangun: Pondok Pesantren Insan Cita Indonesia (PPICI). Al-hamduli ‘Lláh, di awal tahun 2022 ini blueprint-nya sudah berada di tangan saya.


Harapan

Keberadaan pesantren ini tidak akan berlangsung dengan baik, lancar, dan berhasil sesuai rancangan blueprint yang telah dibuat tanpa dukungan dari berbagai pihak, baik dari para punggawa pesantren (mulai dari pengasuh, para ustádz, dan tenaga-tenaga yang lain) maupun masyarakat setempat. Oleh karena itu secara pribadi saya sangat berharap dukungan berbagai pihak demi kepentingan bersama ini yang insya Alláh akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan bangsa ini.

Dengan demikian saya ingin menyampaikan empat hal prinsipil di sini. Pertama, kunci penting keberlangsungan pesantren adalah keikhlasan pengurus dan pengelola. Belajar lah dari Pesantren Gontor, Tebuireng, Lirboyo, Al-Khairaat, dll. Mereka semua bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun karena pengurusnya mempunyai keikhlasan. Bangunan pesantren boleh megah, tetapi tanpa keikhlasan ruh-nya sejatinya tidak ada. Karena keikhlasan adalah ruh pesantren itu sendiri.

Kedua, menjaga keadaban organisasi. Diperlukan peningkatan kapasitas pengurus dan pengajar sebagai bagian dari upaya menjaga keadaban lembaga. Pelatihan-pelatihan ke depan harus terus dilakukan demi peningkatan capacity building para pengurus, pengelola dan pengajar di dalamnya. Semangat thalabu ‘l-‘ilm yang diajarkan oleh Nabi Saw., sejatinya bukan hanya berlaku untuk santri tetapi juga untuk semua kalangan, termasuk jajaran para punggawa pesantren. Kata thalab di situ bermakna hunting, yaitu mencari. Kalau merasa sudah pintar berarti dia sudah berhenti untuk thalab dan itu tidak disukai oleh Rasulullah Saw.

Ketiga, membagi kepedulian kepada masyarakat sekitar dan masyarakat luas. Diperlukan afrmative action yang menegaskan bahwa partisipasi masyarakat selalu dibutuhkan dalam mendukung tercapainya insan cita yang guyub dan mau mendengar. Ke depan keberadaan pesantren tidak boleh eksklusif. Pesantren harus membuka gerbang kepada masyarakat sekitarnya. Pesantren bukan pabrik yang selain karyawannya tidak boleh berpartisipasi. Pesantren adalah wadah bagi santri untuk belajar bagaimana menjadi bagian dari masyarakat. Oleh sebab itu, sangat aneh bila pesantren tidak melibatkan masyarakat dalam proses keberlangsungannya. PPICI lahir dari masyarakat dan oleh karena itu keberadaannya harus ada untuk masyarakat dan dirasakan oleh mereka.

Keempat, menjaga determinasi kualitas proses di PPICI dengan menumbuhkan budaya pesantren yang ramah dan berkesinambungan sesuai dengan visi dan misinya. Ini terkait dengan pengelolaan pesantren yang harus terus disesuaikan dengan visi dan misi awalnya. PPICI tidak boleh tampil sebagai penjara bagi santri. PPICI sebisa mungkin harus mewujud sebagai laboratorium pemikiran di mana para santri antusias terlibat aktif di dalamnya tanpa tekanan melainkan datang dengan kesadaran.

Demikian kata pengantar saya yang singkat ini. Tak banyak kata, saya ingin menyampaikan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pembangunan PPICI. Semoga kita semua tercatat sebagai hamba-Nya yang selalu konsisten dalam menjalankan cita-cita Rasulullah Saw., yaitu proses pembangunan peradaban secara terus menerus ke arah yang lebih baik. Ámín.

Pondok Pesantren Insan Cita Indonesia

Yakinkan dengan iman. Usahakan dengan ilmu. Sampaikan dengan amal.

Kata Sambutan

Ketua Yayasan Insan Cita Indonesia

Hj. Dr. Nilam Sari Lawira

# #

"Pura babbara sompe’ku’, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié."

- Pepatah leluhur Bugis

Rasa gembira tiada tara ketika saya mendapatkan informasi bahwa seorang ibu bernama Yayasan Insan Cita Indonesia (YICI) yang berpusat di Palu dalam waktu dekat ini akan melahirkan anak yang sudah lama dinanti-nanti: Pondok Pesantren Insan Cita Indonesia (PPICI). Saya sangat senang atas kehadiran pesantren ini di tengah-tengah masyarakat Sulawesi Tengah (selanjutnya: Sulteng). Ini merupakan sebuah anugerah yang sangat besar. Allah Swt. telah memberikan modal kesempatan untuk kita membangun bangsa ini secara lebih baik lagi, khususnya masyarakat Sulteng.

Sebagai seorang perempuan yang dipercaya menahkodai YICI selama ini, saya berharap lahirnya PPICI tidak hanya berkomitmen untuk membangun generasi baru Muslim di Indonesia tetapi juga membangun generasi Muslimahnya. Selama ini YICI sebagai rahim embrio lahirnya PPICI telah melakukan banyak kegiatan sosial-keagamaan yang bahkan sering melibatkan kaum perempuan. Saya rasa jejak perjuangan YICI selama ini adalah contoh dan keteladanan bagi PPICI ke depan bagaimana membangun kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial keagamaan.

Lahirnya PPICI merupakan bentuk ikhtiar YICI untuk mengisi ruang kosong yang belum pernah ia sentuh. Langkah perjuangan YICI selama ini belum pernah menyentuh sektor pendidikan berbasis pesantren. Oleh karena itu butuh langkah serius untuk menyentuh sektor tersebut. Dengan kata lain, pembentukan PPICI ini adalah untuk mengimplementasikan cita-cita yayasan (YICI) dalam pendidikan. YICI meyakini bahwa pendidikan, selain akan membawa perubahan sikap hidup perorangan, lembaga dan bangsa, juga akan memberikan ketersambungan amal dengan kehidupan sesudah mati. Semoga ikhtiar ini dicatat sebagai amal jariyah.


Dari YICI ke PPICI

YICI merupakan yayasan yang bergerak di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Pembangunan PPICI merupakan bagian dari penyelenggaraan tujuan dan maksud YICI di bidang keagamaan. Berdasarkan Anggaran Dasarnya (AD) sendiri, kegiatan dalam bidang keagamaan tersebut meliputi: 1) mendirikan sarana ibadah, 2) menyelenggarakan pondok pesantren dan madrasah, 3) menerima dan menyalurkan amal zakat, infak dan sedekah, 4) meningkatkan pemahaman keagamaan, 5) melaksanakan syiar keagamaan, dan 6) studi banding keagamaan. Dalam AD ini jelas penyelenggaraan pondok pesantren dan madrasah merupakan kegiatan yang telah dari awal sudah direncanakan.

Dengan kata lain, penyelenggaraan pesantren ini awalnya masih merupakan suatu yang ideal. Adapun kegiatan keagamaan yang real sudah kami lakukan di antaranya adalah dzikir berjamaah rutinan, santunan anak yatim dan memberangkatkan umrah bagi masyarakat tidak mampu. Pada awal 2018, sebelum Covid-19 melanda dunia, YICI memberangkatkan tiga warga Sulteng untuk melakukan perjalanan umrah ke Mekkah dan Madinah. Kehendak hati YICI rasanya ingin berbagi umrah gratis ini setiap tahun, tapi apalah daya, tiga tahun sudah dunia dilanda musibah Pandemi. Semua harapan itu tak terwujud.

Namun keadaan ini tidak membuat YICI patah semangat. Untuk berbuat suatu yang baik, YICI tak boleh menyerah pada keadaan. YICI ingin tampil sebagai yayasan yang memegang prinsip leluhur, “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”. Semangat ini yang membuat YICI terus berkomitmen membangun masyarakat Sulteng, dan bangsa Indonesia secara umum.

Pada pertengahan akhir 2021 YICI mulai berpikir ke arah yang lebih serius. YICI pada akhirnya memutuskan akan membangun pesantren. Langkah ini tentu akan lebih berdampak besar ke depan. Membangun pesantren sejatinya bukan sekadar “berbagi sembako” atau “santunansantunan musiman”. Membangun pesantren adalah membangun generasi baru umat, meletakkan fondasi arkeologis bagi sejarah masa depan umat Muslim Indonesia. Semoga dengan lahirnya PPICI ini kelak YICI bisa menjadi bagian dalam sejarah bangsa sebagai salah satu lembaga yang pernah turut membina peradaban generasi umat. Semoga Allah meridloinya. Ámín.